Minggu, 22 Desember 2013

Kebiasaan konsumtif masyarakat indonesia



Belanja, adalah kata yang sering digunakan sehari-hari dalam konteks perekonomian, baik di dunia usaha maupun di dalam rumah tangga. Namun kata yang sama telah berkembang artinya sebagai suatu cerminan gaya hidup dan rekreasi pada masyarakat kelas ekonomi tertentu


Pola Hidup Konsumtif !
                Kata “konsumtif” (sebagai kata sifat; lihat akhiran –if) sering diartikan sama dengan kata “konsumerisme”. Padahal kata yang terakhir ini mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan konsumen. Sedangkan konsumtif lebih khusus menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.
Memang belum ada definisi yang memuaskan tentang kata konsumtif ini. Namun konsumtif biasanya digunakan untuk menunjuk pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok.



Perilaku konsumtif masyarakat menjadi fenomena sosial ekonomi yang terjadi dalam menyambut Lebaran. Meski ekonomi Indonenesia saat ini masih sangat mengandalkan konsumsi masyarakat sebagai motor penggerak pertumbuhan utama, gaya hidup konsumtif tetap harus dikendalikan."Saat Ramadan dan jelang Lebaran, dipastikan terjadi lonjakan permintaan pada beberapa komoditas utama, seperti pangan. Ketersediaan pasokan komoditas pangan menjadi keharusan untuk menghindari inflasi yang tinggi. Tentu kondisi ini menjadi lebih mudah jika masyarakat dapat mengendalikan gaya hidup



berdasarkan data Bank Indonesia (BI), hingga pekan ketiga Juli 2013, inflasi mencapai 2,77 persen. Hal ini disebabkan naiknya harga komoditas pangan seperti bawang dan cabai akibat tingginya permintaan.
"Kenaikan harga yang tidak perlu dan tingginya inflasi merupakan bagian dampak serius dari semakin maraknya perilaku konsumerisme yang mestinya dapat dihindari,

Masyarakat semestinya memperlakukan pola konsumsi pada Ramadan sama dengan bulan lainnya. Momentum Ramadan semestinya disikapi dengan sikap hidup sederhana dan tidak berlebihan,

praktik konsumerisme rakyat Indonesia sudah mulai sejak 1990-an. Hal ini diperngaruhi cara hidup orang luar negeri yang begitu konsumtif setiap hari.
"Sejak Indonesia mulai mengenal kata globalisasi, sejak itulah masa-masa konsumerisme di Indonesia. Dan konsumerisme sendiri merupakan pembeda kelas sosial yang nyatasifat konsumeris dan konsumtif dalam diri seseorang tidak akan berhenti begitu saja. Sifat ini akan bergerak untuk kepuasana nafsu. Apalagi berbelanja menjelang Idul Fitri dianggaap sah dilakukan apalagi hanya terjadi satu tahun sekali. Dan tanpa disadari, tubuh manusia sendiri menjadi sasaran konsumsi terindah. "Tubuh adalah sarana produksi kaum kapitalis. Tubuh kita butuh kesempurnaan, butuh perawatan dan kesegaran. Namun seharusnya kita bisa berpikir secara jernih karena konsumerisme tidak memikirkaan kefakiran,



Apakah Konsumtif Berbahaya?


Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebaga usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang in. Remaja dalam perkembangan kognitif dan emosinya masih memandang bahwa atribut yang superfisial itu sama penting (bahkan lebih penting) dengan substansi. Apa yang dikenakan oleh seorang artis yang menjadi idola para remaja menjadi lebih penting (untuk ditiru) dibandingkan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan artis idolanya itu untuk sampai pada kepopulerannya.Menjadi masalah ketika kecenderungan yang sebenarnya wajar pada remaja ini dilakukan secara berlebihan. Pepatah “lebih besar pasak daripada tiang” berlaku di sini. Terkadang apa yang dituntut oleh remaja di luar kemampuan orang tuanya sebagai sumber dana. Hal ini menyebabkan banyak orang tua yang mengeluh saat anaknya mulai memasuki dunia remaja. Dalam hal ini, perilaku tadi telah menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya. Perilaku konsumtif ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumtif ini harus didukung oleh kekuatan  finansial yang memadai. Masalah lebih besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak sehat. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi. Pada akhirnya perilaku konsumtif bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan  etika.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar